Sterilisasi adalah prosedur medis untuk membuat kucing tidak dapat bereproduksi alias beranak pinak. Prosedur ini melibatkan tindakan pembedahan sehingga harus dilakukan oleh dokter hewan. Sterilisasi pada kucing jantan relatif lebih sederhana karena hanya membuang testis-nya dari kantung zakarnya saja. Sementara operasi untuk sterilisasi pada kucing betina jauh lebih rumit karena harus mengeluarkan seluruh kandungan dan indung telur dari dalam perutnya. Selain sebuah bentuk pengendalian populasi, sterilisasi juga memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi pemilik tetapi yang lebih penting juga bagi kesehatan kucingnya itu sendiri.

Kucing tidak akan mengalami kesakitan karena sebelum operasi kucing dibius dulu. Meskipun pada dasarnya semua tindakan pembedahan membawa resiko, operasi sterilisasi jika dilakukan dengan benar merupakan tindakan yang aman untuk dilakukan. Sama dengan tindakan pembedahan pada manusia, sehari sebelum operasi dilakukan sebaiknya dipuasakan dulu. Terutama pada kucing betina yang pembedahannya mencakup organ dalam, penanganan setelah operasi sangat penting untuk memastikan lukanya segera sembuh. Obat-obatan yang dibekalkan dokter tidak boleh terlewatkan, selain itu harus diatur sedemikian rupa supaya kucing tidak banyak bergerak dulu, misalnya menempatkannya di dalam kandang selama beberapa hari dan tidak mengajaknya untuk bermain dengan gerakan-gerakan “ekstrim”.

Yang terbaik adalah melakukan sterilisasi sebelum kucing mencapai kedewasaan, tepatnya pada usia sekitar 5 bulan. Tidak boleh terlalu muda juga. Tidak disarankan melakukan sterilisasi pada kucing berusia di bawah 8 minggu.

Manfaat Sterilisasi Pada Kucing

Manfaat sterilisasi tidak hanya untuk kucingnya itu sendiri tetapi juga pada lingkungan tempat tinggalnya termasuk pemiliknya, karena dengan men-steril kucing kita berarti kita tidak ikut bertanggung hawab pada terus bertambahnya populasi kucing. Berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat, jumlah anak kucing yang lahir setiap harinya jauh lebih banyak dari kelahiran bayi manusia. Sepertinya belum ada riset yang sama di Indonesia, tapi pastinya kalaupun berbeda tidak akan lebih baik. Ujung-ujungnya yang bertambah bukanlah kucing yang dipelihara di rumah melainkan yang dibiarkan menjadi kucing liar.

Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah sterilisasi bisa mencegah sejumlah masalah serius pada kesehatan kucing kita yang kalau sampai terjadi bukan hanya memerlukan penanganan serius yang pastinya biayanya tidak murah tetapi juga bisa menjadi penyebab kematian, diantaranya kanker pada uterus, payudara, dan testis. Sterilisasi juga biasanya membuat perilaku kucing menjadi lebih tenang dan tidak tertarik untuk keluyuran keluar rumah. Kucing yang keluyuran di luar pastinya menghadapi banyak resiko, seperti luka akibat berkelahi sampai bisa saja tertabrak kendaraan. Kucing yang sudah disteril juga biasanya tidak lagi punya kebiasaan menandai “wilayah kekuasaan”-nya di rumah dengan mengencinginya. Pernah terganggu karena kucing kita tiba-tiba menjadi “berisik” karena sedang berada pada masa birahi? Atau kalau kita memelihara kucing betina darah haidnya menetes dimana-mana? Masalah tersebut juga tidak akan terjadi kalau kucing kita disteril.

Keengganan Melakukan Sterilisasi Kucing

Banyak pemilik kucing cenderung enggan melakukan sterilisasi pada hewan kesayangannya itu. Sejumlah alasan yang biasa dikemukakan adalah sebagai berikut, tetapi perlu dicatat bahwa sebetulnya kekhawatiran tersebut tidak benar-benar beralasan.

Kucing menjadi gemuk setelah disteril. Kecenderungan bahwa kucing kita akan semakin gemuk bahkan mengarah pada obesitas tidak sepenuhnya salah, tetapi sebetulnya persoalannya bukan persoalan medis tetapi lebih pada akibat dari perubahan perilaku. Biasanya karena kucing menjadi cenderung tenang dan tidak banyak melakukan aktivitas yang menguras energi seperti keluyuran di luar rumah sampai berkelahi dengan kucing lain. Sebetulnya menghindarinya juga tidak terlalu sulit, cukup dengan pengaturan makanan yang bijaksana dan secara rutin mengajak kucing kita bermain sehingga tubuhnya melakukan cukup aktivitas.

Sterilisasi biayanya mahal. Juga tidak sepenuhnya salah, sterilisasi yang dilakukan oleh dokter hewan memerlukan biaya setidaknya ratusan ribu rupiah, bahkan ada klinik hewan yang mengutip biaya lebih dari satu juta, apalagi untuk kucing betina. Tapi kalau dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan kalau kucing kita hamil dan beranak sebetulnya biaya sterilisasi tidak seberapa. Menjaga kucing hamil lalu melahirkan dan merawat bayi-bayi kucing yang dilahirkannya tidaklah murah. Itu pastinya kalau kita memilih untuk menjadi pemilik kucing yang bertanggung jawab. Kita tidak bisa menutup mata dengan adanya pemilik kucing yang memilih jalan pintas seperti langsung membuang bayi-bayi kucing yang baru dilahirkan. Tapi tentunya kita tidak akan memilih jalan yang kejam begitu bukan? Belum lagi kalau kemudian kucing peliharaan kita terkena penyakit yang sebetulnya bisa dihindari dengan sterilisasi.

Kucing sebaiknya setidaknya pernah mengalami melahirkan dan menjadi “orang tua”. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kucing secara alamiah tidak mengalami masalah dari kehilangan pengalaman alaminya untuk melahirkan dan menjadi “orang tua”. Ada banyak cara lain yang bisa membuat hidup hewan kesayangan kita itu tetap menyenangkan. Sehingga tidak ada alasan kita merasa bersalah karena men-sterilisasi kucing kita sehingga mereka tidak sekalipun merasakan siklus alami tersebut.

Jika biaya merupakan hambatan utama untuk melakukan sterilisasi pada kucing kesayangan anda, sekarang ada sejumlah organisasi dan yayasan yang memberikan bantuan, entah dalam bentuk subsidi sehingga biayanya lebih terjangkau atau bahkan gratis sama sekali.