Kesehatan Kucing

Home/Kesehatan Kucing

Muntah Kronis Pada Kucing

Pastinya kita semua tau, muntah pada kucing – atau juga pada manusia – artinya mengeluarkan isi perut lewat mulut. Tapi hal yang sederhana itu bisa jadi sangat mengganggu dan mungkin saja merupakan indikasi masalah kesehatan jika sampai pada tahap kronis. Dikatakan kronis adalah bila muntahnya berulang-ulang dan berkepanjangan. Biasanya muntah kronis diakibatkan masalah pada lambung atau saluran usus bagian atas. Tetapi bisa saja muntah terjadi sebagai reaksi dari masalah pada organ lain yang kemudian membawa akumulasi zat beracun ke dalam aliran darah yang pada akhirnya merangsang pusat muntah pada otak.

Jadi kalau anda menemukan kucing kesayangan anda muntah-muntah, berulang dan berkepanjangan, jangan dibiarkan berlama-lama, segera bawa ke dokter hewan kepercayaan anda.

Selain masalah kesehatan kucing yang kemudian menimbulkan reaksi muntah yang bisa saja merupakan masalah serius, muntah sendiri juga bisa menyebabkan masalah tersendiri. Karena isi perut yang dikeluarkan lewat mulut saat muntah biasanya berasal dari lambung atau saluran usus bagian atas, artinya nutrisi dari makanan tersebut belum terserap tubuh. Muntah berkepanjangan dapat menyebabkan kucing kekurangan asupan nutrisi yang diperlukan tubuhnya. Sementara itu muntah juga dapat mengakibatkan tersedak, terhirupnya makanan ke dalam saluran nafas, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan batuk bahkan pneumonia.

Anda perlu lebih waspada lagi kalau ada darah pada muntahan kucing, meskipun mungkin hanya sedikit bercak saja.

Diagnosa muntah kronis pada kucing bukan perkara mudah, bahkan untuk praktisi kesehatan hewan profesional sekalipun. Jadi sebaiknya jangan “sok tahu” atau mengandalkan saran teman entah yang disampaikan melalui obrolan atau interaksi lewat jaringan social media. Ada sangat banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan kucing muntah-muntah, banyak diantaranya cukup serius dan memerlukan penanganan tepat. Karena itu diagnosa akurat sangatlah penting.

Berikut beberapa masalah kesehatan kucing yang dapat menimbulkan gejala muntah:

  • Maag
  • Kanker
  • Peradangan pada lambung
  • Kerusakan pada hati
  • Gagal ginjal
  • Infeksi pankreas
  • Tumor pankreas
  • Gangguan pada telinga bagian dalam<
  • Penyakit Addison
  • Cacing jantung
  • Peningkatan kadar tiroid
  • Menelan benda asing
  • Kerusakan kandung kemih
  • Serangan virus panleukopenia
  • Ketoasidosis (sejenis diabetes)
  • Infeksi pada rahim.

Diagnosa Terhadap Gejala Muntah Pada Kucing

Dengan begitu banyaknya kemungkinan, diagnosa kesehatan kucing yang muntah-muntah tidak mudah. Anda tidak dapat melakukannya sendiri, anda juga tidak dapat lepas tangan menyerahkannya kepada dokter hewan. Peranan anda sangat diperlukan terutama saat dokter hewan memerlukan penjelasan detail bukan hanya mengenai kasus muntahnya saja tetapi mungkin juga riwayat kesehatan maupun riwayat perilaku dan kebiasaan-kebiasaannya.

Tentunya dokter hewan akan memulai diagnosa dari kemungkinan yang paling ringan dan paling sering terjadi. Apakah kucing benar-benar muntah atau hanya mengeluarkan kembali makanan yang ditelannya, entah karena kekenyangan, ada benda asing, atau tidak suka dengan rasanya. Dalam hal ini anda perlu memberikan perhatian tidak hanya pada muntahannya tetapi juga pada seluruh kejadian.

Perhatikan perutnya. Jika perut kucing naik turun saat muntah, kemungkinan dia memang benar-benar muntah, mengeluarkan isi perut. Lihat muntahannya, apakah masih mirip seperti makanan yang baru dikunyah atau sudah agak cair. Kalau sudah agak cair, artinya makanan tersebut sudah sempat masuk ke dalam lambung atau usus dan terproses. Perhatikan juga apalah ada cairan kuning turut keluar bersama muntah.

Kucing punya kebiasaan memakan kembali muntahannya. Sebelum itu dilakukannya, ada baiknya menyimpan sebagian sebagai sampel untuk anda bawa saat membawa kucing berkonsultasi dengan dokter hewan. Dengan begitu dokter hewan anda dapat melihat dan menganalisa sendiri.

Kadang-kadang kucing muntah gara-gara batuk. Jangan dianggap enteng. Mungin muntahnya memang bukan karena masalah lambung dan lain-lain, tapi batuknya itu bisa jadi muncul akibat sesuatu yang serius. Sering kali diperlukan foto rontgen untuk mendiagnosa penyebab batuk secara akurat.

Penanganan Masalah Muntah Pada Kucing

Seperti biasa, pengobatan muntah pada kucing diberikan sesuai dengan masalah yang bersembunyi di balik muntahnya. Karena bagaimanapun muntah hanya gejala, bukan masalah yang sesungguhnya. Meskipun begitu, muntah itu sendiri seperti disebut di atas bisa menimbulkan masalah selain rasa tidak nyaman. Pastinya sementara muntahnya juga distop.

Beberapa hal yang mungkin dilakukan diantaranya:

  • Mengubah pola makan.
  • Pemberian obat untuk menghentikan muntah.
  • Pemberian antibiotik jika muntah disebabkan masalah ulkus atau bakteri.
  • Pemberian kortikosteroid untuk mengobati penyakit radang usus, kalau disimpulkan itu penyebabnya.
  • Bedah jika penyebabnya tumor, atau kemoterapi jika penyebabnya kanker.

5 Penyakit Kucing Paling Berbahaya

Kita pastinya tahu persis bahwa di luar rumah ada banyak berkeliaran kucing-kucing liar atau kucing peliharaan yang memang dibiarkan berkeliaran diluar rumah pemiliknya. Tapi sadarkah anda bahwa mereka bisa menjadi penyebar penyakit yang mengancam kucing kesayangan kita bila kita membiarnyannya bermain di luar? Tahukah anda bahwa bahkan di Amerika Serikat sekalipun membiarkan kucing peliharaan bermain diluar rumah sangat tidak disarankan?Seperti juga pada manusia, kebanyakan penyakit kucing sebetulnya bisa dengan mudah dicegah dengan menjaganya tetap berada di dalam rumah. Dengan menjaga kucing tetap berada di dalam rumah kita menjauhkan mereka dari kemungkinan berkelahi sehingga tidak ada resiko tertular aneka macam penyakit yang kebanyakan berpindah melalui gigitan. Kita juga menghindarkan mereka dari parasit dan kutu yang bisa berpindah akibat interaksi langsung. Di luar rumah kucing kita bisa saja memakan sesuatu yang berbahaya dan beracun.

Meskipun kebanyakan penyakit kucing bisa diobati dan disembuhkan, ada sejumlah penyakit pada kucing yang sangat berbahaya, bahkan ada diantaranya yang tidak hanya membahayakan jiwa kucing itu sendiri tetapi juga dapat menyebar dan membahayakan jiwa manusia. Berikut adalah 5 penyakit kucing yang paling berbahaya seperti dilansir oleh situs The Animal Planet.

Feline Leukemia

Leukemia pada kucing menyebar melalui air kencing, lendir dari hidung, dan ludah. Kucing dapat terjangkit penyakit ini melalui gigitan atau melalui interaksi yang lebih sederhana seperti berbagi makanan, makan dan minum dari mangkuk yang sama, atau bahkan hanya sekedar bermain bersama. Kadang-kala kucing yang tertular penyakit ini langsung menunjukkan gejala begitu terinveksi, tetapi sering juga gejala baru muncul setelah beberapa minggu. Feline leukemia dapat mengakibatkan berbagai masalah lanjutan seperti infeksi sistemik, diare, infeksi kulit, penyakit mata, infeksi saluran pernafasan, infeksi empedu, anemia, kemandulan, bahkan kanker. Apapun masalah kesehatan kronis pada kucing bisa saja merupakan akibat dari penyakit feline leukemia ini.

Sampai sekarang belum ada obat untuk mengobati penyakit yang satu ini. Tetapi sebetulnya pencegahannya tidak terlalu sulit. Jangan biarkan kucing kita bermain di luar rumah dan berinteraksi apalagi berkelahi dengan kucing lain. Jaga kebersihan lingkungan tempat kucing tinggal, dan pastikan bahwa vaksinasi dilaksanakan dengan disiplin. Meskipun tidak ada vaksin yang khusus dibuat untuk mencegah penyakit ini, feline leukemia sangat jarang ditemukan pada kucing yang memiliki riwayat vaksinasi yang baik.

Feline Immunodeficiency Virus (FIV)

Meskipun FIV pada kucing merupakan penyakit yang hampir sama dengan HIV pada manusia, penyebab utama penularan penyakit FIV ini bukan interaksi seksual. Kebanyakan kasus penularan FIV terjadi akibat gigitan. Tidak seperti feline leukemia, FIV tidak menular melalui intereksi ringan seperti makan dan minum dari mangkuk yang sama. Tetapi FIV dapat menurun dari induk kepada anak-anaknya.

Penyakit FIV ini sulit dideteksi secara kasat mata karena yang diserang adalah sistem imunitas. Tetapi sekali masuk ke dalam darah, penyakit ini akan tinggal selamanya sampai kemudian efek lanjutannya mulai muncul. Biasanya yang terjadi adalah munculnya penyakit-penyakit lain karena imunitas yang menurun seperti pembengkakan kelenjar getah bening, sariawan, infeksi pada gusi, penurunan berat badan, bulu rontok dan berbagai masalah kulit, diare, anemia, dan kanker. Untuk mencegahnya, jangan biarkan kucing bermain diluar dan pastikan jadwal vaksinasi tidak pernah terlewatkan. Situs kesehatan kucing CatHealth.com mengatakan bahwa setelah 3 kali vaksinasi dengan jadwal yang tepat, kemungkinan terinveksi FIV berkurang antara 60 sampai 80%.

Gagal Ginjal

Gagal ginjal menyusul penyakit pada ginjal merupakan salah satu penyebab kematian utama pada kucing yang sudah berusia lanjut. Usia memang merupakan salah satu faktor penyebab penyakit ginjal. Penyebab lain yang juga tidak bisa kita kendalikan adalah faktor keturunan. Tetapi ada faktor dominan yang bisa kita kendalikan, yaitu asupan bahan-bahan berbahaya. Ada dua jenis gagal ginjal. Gagal ginjal akut terjadi jika fungsi ginjal terhenti secara tiba-tiba, sementara gagal ginjal kronis terjadi jika kerusakan pada ginjal berlangsung secara bertahap. Beberapa gejala gagal ginjal pada kucing yang dapat kita lihat diantaranya kencing berlebihan, minum terus, kembung, muntah, kehilangan nafsu makan, berat badan terus menurun, kejang, bau amonia pada air kencing, dan aktivitas secara keseluruhan yang semakin menurun.

Gagal ginjal tidak bisa disembuhkan, tetapi kesehatan kucing yang terkena penyakit ginjal bisa dipertahankan kualitas hidupnya dengan berbagai cara diantaranya pengobatan, diet, dan terapi hidrasi. Pada dasarnya kucing bisa bertahan hidup jika masih ada 5 sampai 8 persen dari ginjalnya yang masih berfungsi.

Feline Panleukopenia

Penyakit yang lebih sering dikenal sebagai distemper kucing ini daya penularannya sangat tinggi. Jika terjadi pada anak kucing, kemungkinannya untuk bertahan hidup hampir tidak ada lagi. Penyebaranya terjadi melalui cairan tubuh yang keluar melalui kotoran, ludah dan juga darah. Penyebaran lewat darah bisa dengan cepat menyebar melalui gigitan kutu. Perpindahan cairan tubuh ini bisa terjadi melalui banyak cara, termasuk cara-cara sederhana seperti lewat makanan, mangkuk tempat minum, pasir tempat kucing membuang kotoran, bahkan kain.

Distemper kucing menyerang saluran pencernaan sekaligus sistem kekebalan tubuh. Gejala yang muncul diantaranya diare, muntah, dehidrasi, malnutrisi, dan anemia. Gejala lebih awal diantaranya depresi, kehilangan nafsu makan, lesu, dan munculnya kebiasaan menggigiti ekor dan kaki belakang. Tetapi meskipun bisa dilihat dari gejala, biasanya diagnosa penyakit distemper kucing ini baru dipastikan setelah melalui analisa laboratoriom terhadap sampel darah dan kotoran. Begitu dipastikan, biasanya dokter akan mengambil tindakan yang sangat cepat karena penyakit ini memang sangat ganas, bisa mematikan korbannya hanya dalam satu hari sejak terinfeksi. Biasanya penanganannya meliputi transfusi darah, pemberian antibiotik, dan injeksi vitamin dosis tinggi untuk membantu hewan melawan penyakitnya.

Untuk mencegahnya, vaksinasi yang terprogram sangat penting.

Rabies

Banyak kawasan di tanah air masih merupakan wilayah yang belum bebas rabies, sementara kita tentunya tahu bahwa kucing merupakan salah satu hewan yang tidak hanya dapat terjangkiti penyakit mematikan itu, tetapi juga dapat menularkannya, baik kepada hewan lain maupun kepada manusia. Biasanya kucing tertular rabies akibat gigitan hewan liar, sering kali melalui perkelahian. Masa inkubasi rabies dalam tubuh kucing berkisar antara 2 sampai 5 minggu. Karena rabies menyerang sistem syaraf, biasanya gejala-gejala yang bisa terlihat diantaranya koordinasi gerakannya yang tidak terkontrol, depresi, air liur menetes terus, mata merah, menggeram, demam, dan berat badannya menurun drastis. Rabies merupakan penyakit yang mematikan, hewan yang terjangkit rabies tidak bisa diselamatkan lagi. Sementara pada manusia, dengan penanganan yang cepat dan tepat, kematian masih dapat dicegah.

Meskipun penyakit ini sangat mematikan, sebetulnya pencegahannya tidak terlalu sulit. Pastikan mengikuti jadwal vaksinasi dengan disiplin dan jangan biarkan kucing berkeliaran di luar rumah.

Sterilisasi Kucing

Sterilisasi adalah prosedur medis untuk membuat kucing tidak dapat bereproduksi alias beranak pinak. Prosedur ini melibatkan tindakan pembedahan sehingga harus dilakukan oleh dokter hewan. Sterilisasi pada kucing jantan relatif lebih sederhana karena hanya membuang testis-nya dari kantung zakarnya saja. Sementara operasi untuk sterilisasi pada kucing betina jauh lebih rumit karena harus mengeluarkan seluruh kandungan dan indung telur dari dalam perutnya. Selain sebuah bentuk pengendalian populasi, sterilisasi juga memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi pemilik tetapi yang lebih penting juga bagi kesehatan kucingnya itu sendiri.

Kucing tidak akan mengalami kesakitan karena sebelum operasi kucing dibius dulu. Meskipun pada dasarnya semua tindakan pembedahan membawa resiko, operasi sterilisasi jika dilakukan dengan benar merupakan tindakan yang aman untuk dilakukan. Sama dengan tindakan pembedahan pada manusia, sehari sebelum operasi dilakukan sebaiknya dipuasakan dulu. Terutama pada kucing betina yang pembedahannya mencakup organ dalam, penanganan setelah operasi sangat penting untuk memastikan lukanya segera sembuh. Obat-obatan yang dibekalkan dokter tidak boleh terlewatkan, selain itu harus diatur sedemikian rupa supaya kucing tidak banyak bergerak dulu, misalnya menempatkannya di dalam kandang selama beberapa hari dan tidak mengajaknya untuk bermain dengan gerakan-gerakan “ekstrim”.

Yang terbaik adalah melakukan sterilisasi sebelum kucing mencapai kedewasaan, tepatnya pada usia sekitar 5 bulan. Tidak boleh terlalu muda juga. Tidak disarankan melakukan sterilisasi pada kucing berusia di bawah 8 minggu.

Manfaat Sterilisasi Pada Kucing

Manfaat sterilisasi tidak hanya untuk kucingnya itu sendiri tetapi juga pada lingkungan tempat tinggalnya termasuk pemiliknya, karena dengan men-steril kucing kita berarti kita tidak ikut bertanggung hawab pada terus bertambahnya populasi kucing. Berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat, jumlah anak kucing yang lahir setiap harinya jauh lebih banyak dari kelahiran bayi manusia. Sepertinya belum ada riset yang sama di Indonesia, tapi pastinya kalaupun berbeda tidak akan lebih baik. Ujung-ujungnya yang bertambah bukanlah kucing yang dipelihara di rumah melainkan yang dibiarkan menjadi kucing liar.

Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah sterilisasi bisa mencegah sejumlah masalah serius pada kesehatan kucing kita yang kalau sampai terjadi bukan hanya memerlukan penanganan serius yang pastinya biayanya tidak murah tetapi juga bisa menjadi penyebab kematian, diantaranya kanker pada uterus, payudara, dan testis. Sterilisasi juga biasanya membuat perilaku kucing menjadi lebih tenang dan tidak tertarik untuk keluyuran keluar rumah. Kucing yang keluyuran di luar pastinya menghadapi banyak resiko, seperti luka akibat berkelahi sampai bisa saja tertabrak kendaraan. Kucing yang sudah disteril juga biasanya tidak lagi punya kebiasaan menandai “wilayah kekuasaan”-nya di rumah dengan mengencinginya. Pernah terganggu karena kucing kita tiba-tiba menjadi “berisik” karena sedang berada pada masa birahi? Atau kalau kita memelihara kucing betina darah haidnya menetes dimana-mana? Masalah tersebut juga tidak akan terjadi kalau kucing kita disteril.

Keengganan Melakukan Sterilisasi Kucing

Banyak pemilik kucing cenderung enggan melakukan sterilisasi pada hewan kesayangannya itu. Sejumlah alasan yang biasa dikemukakan adalah sebagai berikut, tetapi perlu dicatat bahwa sebetulnya kekhawatiran tersebut tidak benar-benar beralasan.

Kucing menjadi gemuk setelah disteril. Kecenderungan bahwa kucing kita akan semakin gemuk bahkan mengarah pada obesitas tidak sepenuhnya salah, tetapi sebetulnya persoalannya bukan persoalan medis tetapi lebih pada akibat dari perubahan perilaku. Biasanya karena kucing menjadi cenderung tenang dan tidak banyak melakukan aktivitas yang menguras energi seperti keluyuran di luar rumah sampai berkelahi dengan kucing lain. Sebetulnya menghindarinya juga tidak terlalu sulit, cukup dengan pengaturan makanan yang bijaksana dan secara rutin mengajak kucing kita bermain sehingga tubuhnya melakukan cukup aktivitas.

Sterilisasi biayanya mahal. Juga tidak sepenuhnya salah, sterilisasi yang dilakukan oleh dokter hewan memerlukan biaya setidaknya ratusan ribu rupiah, bahkan ada klinik hewan yang mengutip biaya lebih dari satu juta, apalagi untuk kucing betina. Tapi kalau dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan kalau kucing kita hamil dan beranak sebetulnya biaya sterilisasi tidak seberapa. Menjaga kucing hamil lalu melahirkan dan merawat bayi-bayi kucing yang dilahirkannya tidaklah murah. Itu pastinya kalau kita memilih untuk menjadi pemilik kucing yang bertanggung jawab. Kita tidak bisa menutup mata dengan adanya pemilik kucing yang memilih jalan pintas seperti langsung membuang bayi-bayi kucing yang baru dilahirkan. Tapi tentunya kita tidak akan memilih jalan yang kejam begitu bukan? Belum lagi kalau kemudian kucing peliharaan kita terkena penyakit yang sebetulnya bisa dihindari dengan sterilisasi.

Kucing sebaiknya setidaknya pernah mengalami melahirkan dan menjadi “orang tua”. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kucing secara alamiah tidak mengalami masalah dari kehilangan pengalaman alaminya untuk melahirkan dan menjadi “orang tua”. Ada banyak cara lain yang bisa membuat hidup hewan kesayangan kita itu tetap menyenangkan. Sehingga tidak ada alasan kita merasa bersalah karena men-sterilisasi kucing kita sehingga mereka tidak sekalipun merasakan siklus alami tersebut.

Jika biaya merupakan hambatan utama untuk melakukan sterilisasi pada kucing kesayangan anda, sekarang ada sejumlah organisasi dan yayasan yang memberikan bantuan, entah dalam bentuk subsidi sehingga biayanya lebih terjangkau atau bahkan gratis sama sekali.

Bahaya Kegemukan Untuk Kesehatan Kucing

Kucing gemuk, sepertinya memang sulit mencari tandingan betapa menggemasakannya seekor kucing gemuk. Meskipun demikian, sama dengan kegemukan pada manusia, kegemukan pada kucing juga bisa membawa masalah kesehatan serius. Dibalik tampangnya yang menggemaskan, kucing gemuk kemungkinan besar sebenarnya menyembunyikan penderitaan. Manusia bisa dengan mudah menceritakan dengan jelas apa yang dirasakan. Anjing meskipun mungkin tidak bisa menceritakan dengan jelas apa yang dirasakannya seperti halnya manusia, tetapi kita masih bisa melihat dengan mudah bila dia merasa kurang nyaman atau bahkan sakit. Tapi kucing justru sangat “misterius”. Kecuali ada tanda fisik seperti badan kurus, ada luka, tidak bisa berjalan, dll. kita biasanya sulit mendeteksi kondisi kesehatannya.

Kegemukan bisa menyebabkan aneka masalah kesehatan yang serius pada kucing. Diabetes, komplikasi hati, arthritis, bahkan sejumlah masalah kulit pada kucing sering kali disebabkan oleh kegemukan. Seperti manusia yang kesulitan untuk bergerak dan melipat tubuh dalam posisi-posisi tertentu, kucing gemuk juga akan mengalami kesulitan untuk grooming alias membersihkan diri. Kita pemilik kucing pastinya sudah sangat hafal bagaimana kucing sering melipat tubuh untuk menjangkau tempat-tempat tertentu pada tubuhnya saat dia “mandi” dan “bersisir”, menjilati tubuhnya sendiri dengan lidahnya yang mungil tapi berpermukaan kasar itu.

Penyebab kegemukan pada kucing adalah pemiliknya.

Kucing bukanlah makhluk yang banyak bergerak. Kalau perut mereka kenyang, mereka akan menghabiskan lebih dari 20 jam setiap harinya untuk tidur. Saat mereka tidak mendapatkan tekanan untuk mengisi perutnya yang lapar, dia bahkan tidak tertarik untuk melakukan apapun bahkan ketika sesuatu yang merupakan makanan alami mereka lewat di depan hidungnya. Saat kucing kenyang, kalaupun mereka melihat burung di dalam sangkar, mereka bahkan tidak tertarik untuk mendekati apalagi berusaha menerkam dan memakannya. Tetapi kalau mereka bisa makan tanpa harus “berburu” mereka cenderung untuk tetap makan meskipun mereka tidak benar-benar lapar. Jadi kalau kita sebagai pemiliknya membiarkan makanan tersedia setiap saat di depannya, kemungkinan besar dia akan makan jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Makan banyak tidur banyak, tentunya sangat logis kalau lama-kelamaan tubuhnya membengkak.

Di alam bebas mereka hanya makan saat mereka lapar. Dan untuk mendapatkan makanan mereka harus berburu, mengejar mangsa, dan belum tentu tertangkap. Saat mereka benar-benar berhasil menangkap mangsa, mungkin itu sudah entah berapa kali mereka mencoba dan gagal. Mereka makan secukupnya sementara tubuhnya dipaksa untuk bergerak. Jadi kalau kucing liar yang hidup di alam bebas tubuhnya cenderung “atletis” itulah alasannya. Sayangnya saat seorang manusia jatuh hati – atau mungkin merasa iba – kemudian mengadopsinya dan membawanya ke rumah, saat kita berfikir itu sebagai awal dari kehidupan yang lebih baik, dari sisi kesehatan bisa jadi sebaliknya. Sering kali kit